Seorang pemuda duduk di kursi terdakwa karena didakwa membunuh teman
sebayanya. Sebelum membaca keputusan, sang hakim bertanya kepada ayah si
anak yang menjadi korban, "Pemuda ini terbukti bersalah telah membunuh
putra anda. Menurut anda, hukuman apa yang setimpal untuknya?"
Sang ayah menjawab, "Pak Hakim, anak saya satu-satunya telah meninggal.
Hukuman apapun tidak akan mengembalikan hidupnya. Saya sangat
mengasihinya, dan sekarang saya tidak punya siapa-siapa lagi untuk saya
kasihi. Tolong kirimkan terdakwa ke rumah saya untuk menjadi anak saya."
Apa reaksi kita terhadap orang yang pernah menyakiti kita? Ingin
menghukumnya? Mencoba untuk membuatnya merasakan penderitaan yang kita
rasakan, bahkan kalau bisa lebih menderita, biar tahu rasa?
Memaafkan memang bukan perkara semudah membalikkan telapak tangan.
Namun, begitulah yang Tuhan ingin kita lakukan (ayat 22). Lalu,
bagaimana melaksanakan kehendak Tuhan itu di tengah keterbatasan kita?
Pertama, sadari bahwa ibarat orang berhutang, kita punya lebih banyak
hutang kepada Tuhan daripada orang lain kepada kita. Dosa kita yang
begitu banyak, oleh Kasih Kristus lunas dibayar di kayu salib. Jadi,
kalau hutang kita yang segitu banyaknya sudah Tuhan bayar lunas, mengapa
kita masih terus menuntut orang lain "membayar" utangnya kepada kita
(ayat 33)?
Kedua, sadari bahwa menyimpan dendam dan kebencian
dalam hati hanya akan menimbulkan ketidaksejahteraan. Hanya menambah
beban. Dengan memaafkan, sebenarnya kita telah berbuat baik kepada diri
sendiri.
KEKUATAN SESEORANG TERLETAK KETIKA IA BISA
MEMAAFKAN ORANG YANG MENYAKITINYA.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar