Jumat, 05 Juli 2013

SOLA SCRIPTURA, SOLA GRATIA, SOLA FIDE


Sola Scriptura itu artinya hanya percaya kepada Alkitab yang adalah Firman Tuhan. Penegasan akan Sola Scriptura mengakibatkan para reformator hanya menerima 66 kitab sebagaimana terjemahan aslinya, yaitu 39 kitab PL dan 27 kitab PB dan menyingkirkan kitab-kitab di luar itu. Kitab yang disingkirkan adalah kitab Apokrifa (Deuterokanonika) yang diterima oleh gereja Katolik Roma sebagai bagian dari Alkitab (dalam Alkitab yang digunakan gereja Katolik, menempatkan kitab Apokrifa ini setelah kitab Maleakhi sampai sebelum kitab Injil Matius). Sola Scriptura juga berarti tidak ada filsafat atau hasil pemikiran manusia lainnya yang lebih tinggi dari Alkitab.

Sola Gratia itu artinya hanya oleh anugerah (istilah ini dan istilah selanjutnya menggunakan bahasa Latin yang menjadi bahasa internasional pada abad dimana Luther hidup). Menegakkan kembali prinsip bahwa manusia diselamatkan hanya berdasarkan anugerah Allah tanpa sedikit pun jasa manusia. Prinsip ini menolak pandangan mengenai adanya kerjasama antara manusia dan Allah dalam karya keselamatan. Anugerah merupakan pemberian Allah secara cuma-cuma. Bagi Martin Luther, anugerah hanya boleh didefinisikan dan menjadi jelas dalam satu kalimat, yaitu pengampunan dosa. Apabila anugerah adalah pengampunan dosa dan anugerah adalah cuma-cuma, maka jelaslah bahwa jual beli surat pengampunan dosa adalah salah dan tidak seharusnya.

Sola Fide. Fide dalam bahasa Latin berarti iman. Sola Fide berarti hanya berdasarkan iman kepercayaan saja manusia dapat datang kepada Tuhan. Tidak ada cara memperkenan hati Tuhan, kecuali melalui iman. Konsep iman dalam pemikiran Martin Luther adalah penerimaan-atas-penerimaan yaitu bahwa saya menerima suatu fakta bahwa Tuhan menerima saya. Saya yang begitu rusak dan Tuhan terima. Tuhan kini bertanya: ”Sekarang maukah kamu percaya?” Jawab saya: ”Saya menerima fakta yang tidak mungkin, tetapi sudah terjadi, maka saya bersyukur dan menerima.” Itulah iman.

KARAKTER KEPEMIMPINAN RASUL PAULUS

Jika kita hendak mencari sosok manusia biasa yang patut disebut sebagai pemimpin teladan , kita mungkin tidak akan menemukan sosok pribadi teladan lain yang lebih baik dibanding Paulus. Ia adalah seorang pahlawan kepemimpinan, pemimpin umat yang sejati dan jiwa kepemimpinannya terlihat jelas ketika dia berhadapan dengan situasi yang sulit. Ia tidak memiliki jabatan apa-apa dalam pemerintahan, kecuali dalam lingkup gereja sebagai rasul, namun dalam Kisah Para Rasul 27, kita melihat bagaimana Paulus mengambil alih kendali kepemimpinan lingkungan duniawi disaat orang lain yang berkuasa terbukti gagal memimpin. Paulus dalam konteks Kisah Para Rasul 27 ini justru adalah seorang yang terbelenggu, seorang tahanan !

Dalam bacaan ini, kita dapat melihat beberapa prinsip atau nilai kepemimpinan dan kepelayanan Paulus:

  1. Seorang pemimpin harus dapat dipercaya. Sebagai seorang tahanan Paulus diawasi oleh seorang perwira Romawi bernama Yulius. Hebatnya Paulus ketika baru dalam perjalanan hari pertama, ketika kapal mereka singgah di Sidon, sang pengawal yaitu Yulius memperlakukan Paulus dengan ramah dan boleh memperkenankan / membiarkan Paulus menemui teman-temannya. Suatu hal yang tidak lazim, karena bisa saja tahanan akan melarikan diri. Namun demikianlah yang terjadi. Paulus mampu membuat orang lain dapat mempercayainya. Hebatnya orang lain yang mempercayainya adalah “musuh”nya. Saat ini kita dilanda krisis kepercayaan. Jarang menemukan orang yang dapat dipercaya. Kepercayaan adalah pangkal kepemimpinan. Kepercayaan pada pemimpin berpangkal dari sikap pemimpin yang saleh, yang mengerahkan segenap tenaga dan kemampuan demi kepentingan pengikut.
  2. Berani mengambil inisiatif. Ulasan ayat 4-9 menunjukan bahwa perjalanan kapal yang ditumpangi Paulus dalam keadaan sulit untuk tetap memaksakan kelanjutan perjalanan. Dalam situasi ini, Paulus seorang tahanan mengambil langkah berani, dengan memperingatkan mereka (ay. 10). Paulus sadar ada masalah didepan mata, ia mengambil inisiatif dan mencoba menjernihkan situasi. Itulah kepemimpinan. Para pemimpin muncul ditengah krisis dengan cara mengambil inisiatif.
  3. Seorang pemimpin bisa mengambil keputusan yang baik. Peringatan yang disampaikan Paulus menunjukan sikapbijaksana Paulus sebagai seorang pemimpin yang mampu mengambil keputusan yang baik. Kata-kata yang disampaikan Paulus adalah wujud olah pikiran yang bijaksana.
  4. Berbicara secara berwibawa dan menguatkan orang lain. Nilai kepemimpinan ini, dapat kita lihat pada ayat 22. Setelah Paulus mengeluarkan kata-kata teguran: “sekiranya nasehatku dituruti”, dia melanjutkan dengan kata-kata penguatan: “tabahkanlah hatimu”. Dalam situasi genting, pemimpin jangan ikut-ikutan panik, melainkan harus tenang dan menguatkan mereka yang dipimpin.
  5. Bersikap percaya pada kekuasaan Tuhan, optimis dan bersemangat. Paulus percaya dan tahu pasti bahwa Allah sedang mengerjakan sesuatu yang luar biasa, dan Dia akan menepati janjiNya. Karena itu dia dengan optimis dan penuh semangat berujar: “aku percaya kepada Allah, bahwa semuanya pasti terjadi sama seperti yang dinyatakan kepadaku” (Kis. 27:25). Semangat dan optimisme dapat mengilhami para pengikut.
  6. Tidak pernah kompromi untuk hal yang bersifat mutlak. Hal ini nyata jika kita melihat ayat 22 dan 31. Benar bahwa Allah telah berjanji bahwa tidak ada seorangpun yang diatas kapal yang akan tewas, namun demikian, hal itu hanya akan terjadi jika para awak tetap berada di atas kapal dan mengupayakan kapal berlabuh. Karena itu Paulus dengan tegas mencegah rencana pelarian para awak kapal.
  7. Memusatkan perhatian pada sasaran, bukan halangan. Pada ayat ke 33-35, Paulus tampil sebagai pemimpin yang berpikiran jernih. Dia menganjurkan orang-orang yang ada di kapal , yang menahan lapar 14 hari lamanya, untuk makan. Cara pandangnya tidak terhalangi badai !
  8. Menguatkan dan memberdayakan orang lain melalui teladan hidupnya. Ayat 35 dan 36 menjadi contoh yang indah. “Sesudah berkata demikian, ia mengambil roti, mengucap syukur di hadapan Allah di hadapan semua mereka, memecah-mecahkannya, lalu mulai makan. Maka kuatlah hati semua orang itu, dan merekapun makan juga. Disini Paulus menyeimbangkan kebutuhan rohani dan jasmani. Kebernaian Paulus, keyakinan, rasa optimis, ketenangan dan teladannya menguatkan orang-orang di kapal itu. Hingga akhirnya semua mereka di dalam kapal tersebut selamat bahkan prajurit sanggup berpikir mencegah pembunuhan para tahanan termasuk Paulus. Ajaib benar kuasa Tuhan !

Kemenangan Paulus adalah karena Allah berkenan mengaruniakan dia kemampuan kepemimpinan. Ia teruji dalam krisis yang berat. Kepemimpinan sejati teruji melalui krisis yang berat . Pikiran yang jernih, mengambil alih situasi yang sudah lepas kendali dan memimpin dengan keteladanan. Itulah nilai kepemimpinan dan kepelayanan Paulus !
===

***) disarikan dari: “The Book on Leadership” karya John MacArthur (Indonesian version: “Kitab Kepemimpinan")

Sumber: http://id.shvoong.com